Kisah yang Tak Pernah Usai: Mengapa Rangga & Cinta (2025) Layak Masuk Daftar Tontonanmu
poster film Rangga dan Cinta (instagram.com/filmranggacinta)
Pada tahun 2025, film Indonesia kembali menggeliat dengan hadirnya Rangga & Cinta, sebuah “rebirth” dari karya legendaris Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Melalui sutradara ternama Riri Riza bersama rumah produksi Miles Films, film ini tak sekadar mengulang kisah lama, tapi memilih jalan baru: mempertemukan unsur nostalgia, musikalitas, dan esensi generasi Z.
Berikut ulasan mendalam—berdasarkan berbagai artikel terkini—mengapa film ini layak untuk ditonton, bagaimana ia berbeda dari versi aslinya, serta apa makna keberhasilannya bagi perfilman Indonesia.
Kisah Lama dengan Napas Baru
Mengutip Detik.com, film ini mengisahkan pertemuan antara Cinta (Leya Princy), siswi populer yang ceria, dan Rangga (El Putra Sarira), siswa pendiam pencinta puisi. Keduanya bertemu lewat lomba menulis, dan dari sana muncul benih perasaan yang tumbuh perlahan di tengah perbedaan karakter mereka.
Kisah cinta pertama ini dikemas sederhana namun emosional. Bedanya, kali ini kisah mereka dihidupkan melalui format musikal, di mana lagu dan puisi menjadi medium utama untuk menuturkan perasaan — menjadikannya lebih ekspresif dan menyentuh.
Alasan Kenapa Film Ini Layak Ditonton
Menurut Radar Madiun, ada beberapa alasan kuat kenapa film ini wajib kamu tonton:
1. Romantis dan penuh emosi. Cerita cinta remaja yang tulus dan jujur kembali hadir, dibungkus dengan gaya puitis.
2. Musikal modern. Lagu-lagu karya Melly Goeslaw dan Anto Hoed diaransemen ulang, menambah nuansa nostalgia sekaligus kekinian.
3. Visual estetik. Sinematografi menawan dengan latar Jakarta dan Yogyakarta menghadirkan kesan urban dan intim.
4. Nostalgia dan relevansi. Film ini mampu menghubungkan dua generasi: mereka yang tumbuh bersama AADC dan penonton Gen Z masa kini.
5. Aktor muda berbakat. Wajah baru hasil audisi nasional membuat kisah lama terasa segar.
6. Cerita cinta yang autentik. Emosi cinta pertama, konflik persahabatan, dan pencarian jati diri terasa nyata.
7. Antusiasme penonton luar biasa. Dalam 13 hari penayangan, film ini sudah ditonton lebih dari 507.000 orang, menurut data Kumparan.
Perbedaan dari AADC (2002)
Berdasarkan ulasan di HaiBunda, meski mengangkat tokoh yang sama, film ini berbeda jauh dari versi aslinya.
· Format musikal: AADC dulu murni drama romantis, sedangkan versi baru ini memadukan lagu dan puisi.
· Pemeran baru: Tak ada Dian Sastro atau Nicholas Saputra — generasi baru mengambil alih peran dengan interpretasi berbeda.
· Konteks modern: Cinta dan Rangga kini hidup di era digital, menghadapi dinamika sosial yang lebih kompleks.
· Akhir yang lebih hangat: Jika AADC dikenal dengan perpisahan di bandara, Rangga & Cinta memilih akhir yang lebih lembut dan reflektif.
Semua elemen itu membuat film ini bukan sekadar mengulang nostalgia, tetapi menafsirkannya kembali sesuai zaman.
Produser Mira Lesmana mengungkapkan kebanggaannya atas sambutan hangat penonton. Dalam wawancaranya dengan Kompas.com, ia menyebut bahwa antusiasme publik menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap film Indonesia yang berani bereksperimen.
Tak hanya sukses di bioskop, film ini juga ramai dibicarakan di media sosial, terutama karena unsur musikalnya yang unik dan kehadiran lagu-lagu baru Melly Goeslaw yang kembali “menghipnotis” penonton dengan lirik sederhana namun emosional.
Bagi kamu yang pernah jatuh cinta, ragu, atau menyesal karena tak sempat mengungkapkan perasaan — film ini akan membuatmu kembali mengingat bahwa cinta pertama, seaneh dan seindah apa pun, selalu punya tempat di hati.
Ditulis oleh: Devi Jesica Ndoen 115230492
Referensi:
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cd7rn9vq9dro
AADC THE GOAT
ReplyDelete